Daftar Isi1 Terjadinya Rawa Pening2 Legenda Rawa Pening3 Asal Usul Baru Klinthing Rawa Pening4 Cerita Rawa Pening5 Cerita Terbentuknya Rawa Pening Terjadinya Rawa Pening Kisah ini bermula saat ada wanita bernama Endang Sawitri yang hamil dan melahirkan seekor naga. Anehnya, naga yang kemudian diberi nama Baru Klinting itu bisa berbicara layaknya manusia. Beranjak remaja, Baru Klinting mulai menanyakan keberadaan ayahnya. Sang ibu pun mengatakan kalau ia sebenarnya anak dari Ki Hajar Salokantara yang sedang bertapa di sebuah gua. Endang juga memintanya untuk menemui sang ayah. Dibekalinya Baru Klinting dengan klintingan semacam lonceng peninggalan Salokantara sebagai bukti kalau mereka memang ayah dan anak. Sesampainya di sana, Salokantara mengajukan satu persyaratan lagi sebagai bukti. Yakni agar Baru Klinting terbang melingkari Gunung Telomoyo. Baru Klinting ternyata berhasil melakukan tugasnya. Salokantara pun mengakui kalau ia memang darah dagingnya. Lalu, Salokantara memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan. Di saat bersamaan, penduduk Desa Pathok di sekitar hutan tersebut sedang berburu hewan untuk sedekah bumi. Tak menemukan satu hewan pun, akhirnya mereka membunuh dan memotong-motong tubuh Baru Klinting. Saat pesta berlangsung, datanglah anak kecil dekil dan penuh luka yang sebenarnya merupakan jelmaan Baru Klinting. Ia mengaku kelaparan dan memohon agar diberi makan oleh penduduk setempat. Sayangnya, mereka malah tak mengacuhkan dan mengusirnya dengan kasar. Baru Klinting yang sakit hati pun pergi ke rumah seorang janda tua yang ternyata mau memperlakukannya dengan baik, bahkan memberinya makan. Usai makan, ia berpesan agar wanita itu menyiapkan lesung dan menaikinya jika terdengar suara gemuruh. Baru Klinting lalu kembali ke pesta. Ia mengadakan sayembara dan menantang para penduduk untuk mencabut lidi yang ditancapkannya ke tanah. Sempat menganggap remeh, ternyata tak ada satu pun penduduk yang berhasil melakukannya. Setelah semua menyerah, dengan mudah Baru Klinting mencabut lidi tersebut. Ternyata, dari bekas tancapan lidi tersebut muncul air yang semakin lama semakin deras alirannya. Para penduduk desa itu pun tewas tenggelam di rawa yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening. Hanya ada satu penduduk yang selamat, yakni si janda tua yang bersikap baik pada Baru Klinting. Ada beberapa versi legenda mengenai terjadinya Rawa Pening yang ada di Kabupaten Semarang. Salah satunya seperti yang kami bahas di atas. Anda dapat menceritakannya pada buah hati sebagai cerita dongeng anak sebelum tidur. Putra dan putri Anda pun dapat memetik pelajaran darinya. Yakni untuk tidak menilai orang lain dari luarnya saja. Juga untuk tidak sembarangan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Pada zaman dahulu, hidup seorang wanita bernama Endang Sawitri yang tinggal di desa Ngasem. Endang Sawitri sedang hamil, dan kemudian dia pun melahirkan. Anehnya, yang dilahirkan bukanlah bayi biasa, melainkan seekor naga. Naga tersebut kemudian diberi nama Baru Klinting. Baru Klinting adalah seekor naga yang unik. Dia bisa berbicara seperti manusia. Saat usianya menginjak remaja, Baru Klinting bertanya kepada ibunya. Dia ingin tahu apakah dia memiliki seorang ayah, dan dimana ayahnya berada. Endang Sawitri menjawab bahwa ayahnya adalah seorang raja, yang sedang bertapa di sebuah gua, di lereng Gunung Telomoyo. Pada suatu hari, Endang Sawitri berkata bahwa sudah tiba saatnya bagi Baru Klinting untuk menemui ayahnya. Dia memberikan sebuah klintingan kepada Baru Klinting. Benda itu adalah peninggalan dari ayah Baru Klinting, dan dapat menjadi bukti bahwa Baru Klinting adalah benar-benar anaknya. Baru Klinting berangkat ke pertapaan untuk mencari ayahnya. Saat sampai di pertapaan Ki Hajar Salokantara, dia pun bertemu dengan Ki Hajar Salokantara dan melakukan sembah sujud di hadapannya. Baru Klinting menjelaskan kepada Ki Hajar Salokantara bahwa dia adalah anaknya, sambil menunjukkan klintingan yang dibawanya. Ki Hajar Salokantara kemudian berkata bahwa dia perlu bukti lagi. Dia meminta Baru Klinting untuk melingkari Gunung Telomoyo. Jika dia bisa melakukannya, maka benar dia adalah anaknya. Ternyata Baru Klinting dapat dengan mudah melingkari gunung tersebut. Ki Hajar Salokantara mengakui bahwa memang benar Baru Klinting adalah anaknya. Dia lalu memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan yang terdapat di lereng Gunung Telomoyo. Asal Usul Baru Klinthing Rawa Pening Alkisah, Suatu hari warga Desa di Pathok Jawa Tengah mengadakan sedekah bumi sebagai rasa syukur atas sukses panen mereka. Mereka mengadakan berbagai macam acara seperti hiburan rakyat berupa pertunjukan tarian tradisional, pagelaran wayang kulit ataupun kuda lumping dan acara yang paling dinanti yakni kenduri bersama. Kemudian memotong kambing dan ayam, selain itu mereka juga mencari hewan buruan di hutan. Kaum laki-laki baik tua ataupun muda keluar masuk ke hutan untuk mencari hewan buruan. Tetapi anehnya tidak ada satupun kijang, babi atau banteng hutan yang muncul. Hingga hari menjelang sore tangan mereka masih kosong saja. Tidak ada satu hewan buruan pun yang berhasil ditangkap. Karena kesal serta kelelahan, seorang laki-laki dari mereka beristirahat di batang pohon besar yang tumbang di pinggir jalan setapak. Lalu ia menancapkan pedangnya di pohon tumbang yang sudah ditutupi lumut itu. Yang anehnya dari pohon itu justru mengeluarkan darah segar yang mengalir deras dan menyebabkan bau anyir yang menyengat. Dengan segera mereka mencari tahu benda apa yang sebenarnya tengah diduduki oleh mereka itu. “Teman-teman, nasib kita sepertinya sedang baik. Ini bukan pohon tumbang, tetapi ular raksasa yang sedang tertidur. Mari kita potong dan bawa ke desa untuk dibuat hidangan yang lezat!,” seru Kepala Desa pemimpin perburuan. Mereka tidak tahu kalau ular yang mereka potong itu ternyata Baru Klinthing, putra dari pertapa sakti Ki Hajar Salokantara dan istrinya Nyai Selakanta yang berasal dari Desa Ngasem. Baru Klinthing yang sedang bertapa untuk memperdalam ilmu kanuragan dengan cara melingkari Gunung Telomoyo. Kalau warga Desa Pathok tahu, mereka pasti mengurungkan niatnya menjadikan Baru Klinthing sebagai santapan karena akibat dari perbuatan itu sungguh sangat luar biasa. Ular raksasa Baru Klinthing itu berubah wujud menjadi anak kecil yang kurus kering serta berbau amis seperti tidak pernah mandi selama berhari-hari. Yang kemudian ia bergabung dengan warga Desa Pathok yang sedang mengadakan syukuran sedekah bumi. Tetapi ketika ia meminta makan dan minum, tidak ada seorang pendudukpun yang mau memberinya. Semua orang yang ditemuinya selalu menghardik dan mengusir dengan kasar. “Pergi kau pengemis kecil dasar jorok dan bau! Makanan di perutku dapat dimuntahkan kalau terus melihatmu! Sana pergi mengemislah di tempat lain. Di sini tidak ada tempat untukmu!,” bentak salah satu warga dan mengayunkan tongkat pada Baru Klinthing. Air mata jatuh membasahi pipinya yang tirus. Sungguh kejam perbuatan penduduk Desa Pathok. Mereka memang orang kaya, namun hati dan perangainya sangatlah miskin, jauh dari sifat dermawan yang belas kasih. Di tengah keputus asaannya, Baru Klinthing tiba di sebuah rumah sederhana salah seorang penduduk desa yang bernama Nyi Latung. “Masuklah ke rumahku, Nak. Jangan menangis di luar seperti itu. kalau kau lapar, Nenek punya sedikit makanan untukmu,”pinta Nyi Latung dan menggandeng Baru Klinthing dengan lembut untuk masuk ke dalam rumahnya. Baru Klinthing menceritakan kejadian yang ia alami dengan penduduk desa. “Nenek paham perasaanmu, Nak. Penduduk desa ini memang terkenal tamak serta sombong. Sifat mereka semakin menjadi-jadi. Nenek coba mengingatkan mereka namun malah dikucilkan. Tetapi tidak apa-apa, Nenek tidak marah. Suatu hari Tuhan pasti membalas perbuatan mereka,” jelas Nyi Latung sambil menyiapkan hidangan sederhana untuk Baru Klinthing. Seperti nasi, sayur lodeh dan tempe goring. Meskipun tidak mewah, Baru Klinthing tetap menikmati hidangan itu. Setelah selesai makan serta istirahat secukupnya, ia pamit pada Nyi Latung yang tinggal seorang diri. Sebelum pergi Baru Klinthing berpesan pada Nyi Latung untuk naik ke lesung dan menyiapkan kayuh kalau tiba-tiba terdengar suara kentongan yang bertalu-talu. Nyi Latung mendengarkan pesan itu karena ia tahu bahwa anak kecil yang ditolongnya bukan anak biasa. Baru Klinthing lalu pergi ke lapangan desa ketempat para penduduk berpesta. Di tengah kerumunan orang banyak, ia menancapkan sebuah batang lidi lalu menantang siapa yang bisa mencabutnya. “Di kantung yang sedang aku genggam ini, terdapat puluhan keping uang emas yang akan aku berikan untuk siapa saja yang bisa mencabut lidi di hadapanku ini,” kata Baru Klinthing lantang, membuat mata semua orang terbelalak kaget ternyata pengemis kecil yang diusir tadi mempunyai banyak kekayaan. Karena rasa tamak serta rakusnya, para penduduk desa mulai maju satu persatu guna mencabut lidi yang ditancapkan oleh Baru Klinthing. Tetapi sampai orang terakhir, tidak ada satupun orang yang berhasil. Bahkan walau dicabut beramai-ramai, mereka masih tetap gagal. Lalu Baru Klinthing maju dan mencabut lidi yang ia tancapkan di tanah itu. Tak lama kemudian keluarlah air yang deras dari bekas lubang lidi tersebut. Para penduduk desa lalu memukul kentongan bertalu-talu untuk memberi tahu yang lain supaya menyelamatkan diri karena datang banjir bandang yang secara tiba-tiba. Tetapi berapa keras usaha mereka, tidak ada satupun orang yang selamat dari sapuan air bah itu. Semuanya tewas tenggelam karena banjir kecuali janda tua yang memberi makan Baru Klinthingtadi. Nyi Latung selamat dan berhasil keluar dari desanya yang kini berubahmenjadi sebuah danau raksasayang diberi nama Rawa Pening. Cerita Rawa Pening Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis bernama Endang Sawitri. Penduduk desa tak seorang pun yang tahu kalau Endang Sawitri punya seorang suami, namun ia hamil. Tak lama kemudian ia melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk karena yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor Naga. Anehnya Naga itu bisa berbicara seperti halnya manusia. Naga itu diberi nama Baru Klinting. Di usia remaja Baru Klinting bertanya kepada ibunya. Bu, “Apakah saya ini juga mempunyai Ayah?, siapa ayah sebenarnya”. Ibu menjawab, “Ayahmu seorang raja yang saat ini sedang bertapa di gua lereng gunung Telomaya. Kamu sudah waktunya mencari dan menemui bapakmu. Saya ijinkan kamu ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu. Dengan senang hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar Salokantara sang ayahnya. Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya, benar”, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting mengatakan berarti Ki Hajar adalah orang tuaku yang sudah lama aku cari-cari, aku anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun aku perlu bukti satu lagi kalau memang kamu anakku coba kamu melingkari gunung Telomoyo ini, kalau bisa, kamu benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa dalam hutan lereng gunung. Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa langsung dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam acara pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak seperti tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, Nek, “Kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung,agar selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang mampu mencabut lidi itu. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan dapat selamat, semua desa menjadi rawa-rawa, Cerita Terbentuknya Rawa Pening Pada zaman dahulu di sebuah desa hiduplah seorang gadis bernama Endang Sawitri. Tidak ada yang tahu bahwa gadis ini sudah memiliki suami, tetapi gadis ini telah mengandung. Ketika Endang melahirkan, seluruh desa menjadi gempar karena yang dilahirkan bukan anak manusia, melainkan anak naga. Saat memasuki usia remaja, Baru Klinting menanyakan keberadaan ayahnya kepada sang ibu. Kemudian, sang ibu memberitahu bahwa ayah Baru Klinting sedang bertapa di gua yang ada di lereng Gunung Telomaya. Akhirnya, Baru Klinting berangkat ke gua tersebut sambil membawa klintingan sejenis lonceng yang pernah ditinggalkan sang ayah dulu. Di gua, Baru Klinting berhasil menemukan ayahnya, Ki Hajar Salokantara. Baru Klinting menunjukkan klintingan yang ia bawa sebagai bukti bahwa ia adalah anak Ki Hajar Salokantara. Singkat cerita, setelah Ki Hajar Salokantara percaya, di saat yang bersamaan warga desa hendak membuat pesta. Mereka mencari hewan untuk disembelih, tapi mereka tidak menemukan hewan apa pun. Sampai akhirnya mereka menemukan seekor naga dan membawa naga itu pulang untuk dipotong dan dimakan. Saat warga desa tengah berpesta, muncul seorang anak kecil dengan paras yang buruk rupa. Anak ini adalah jelmaan Baru Klinting. Saat si anak hendak meminta makan, warga desa malah mengusirnya karena parasnya sangat buruk. Dengan sedih dan sakit hati, anak itu pergi. Namun, seorang janda tua melihat anak itu dan memanggilnya masuk ke rumah. Si anak diberi makan oleh janda itu. Kemudian anak jemaan Baru Klinting itu berpesan, “Jika nenek mendengar suara bunyi gemurah, naiklah ke lempung agar selamat.” Baru Klinting kemudian kembali ke warga desa dan menancapkan sebuah lidi ke tanah. Ia membuat sayembara bagi warga desa yang berhasil mencabut lidi itu. Akan tetapi, tak seorang pun mampu mencabut lidi kecuali Baru Klinting sendiri. Setelah lidi dicabut, ada aliran air yang deras dan lambat laut menenggelamkan desa. Semua warga desa tenggelam, kecuali si nenek yang berhasil selamat karena menaiki lesung. Suara gamelan peminta tumbal Misteri Rawa Pening yang santer terdengar adalah suara gamelan yang menandakan bahwa dalam waktu dekat ada orang yang meninggal karena tenggelam di danau ini. Suara gamelan ini terdengar seperti berada di seberang danau, tapi saat dihampiri suara itu seperti terdengar di arah sebaliknya. Konon, suara gamelan ini sama seperti tabuh-tabuhan ketika warga desa yang ditenggelamkan Bayu Klinting sedang berpesta. Bahkan, banyak yang berspekulasi bahwa Baru Klinting yang tinggal di Rawa Pening inilah yang meminta tumbal. Keberadaan kerajaan mahluk halus Di atas danau seluas hektar ini terdapat tiga buah jembatan besar, yang pertama adalah jembatan utama yang berada di Jalan Raya Solo-Semarang, yang kedua adalah jembatan yang letaknya di antara jembatan utama dan bendungan, lalu yang terakhir adalah jembatan rel kereta api Ambarawa-Tuntang yang merupakan peninggalan Belanda. Menurut orang-orang pintar, ada 3 kerajaan mahluk halus yang berdiri di sekitar Rawa Pening. Kerajaan pertama letaknya di sekitar danau yang ada di Rawa Pening. Kemudian, kerajaAn mahluk halus yang kedua bertempat di antara jembatan utama dan jembatan rel kereta api. Selanjutnya, kerajaan terakhir ini berdiri di antara jembatan kedua. Belum ada yang pernah membuktikan misteri Rawa Pening yang satu ini. Namun, banyak orang yang mengaitkan tragedi kecelakaan atau orang tenggelam di Rawa Pening karena ulah penghuni kerajaan mahluk halus ini. Mencari kerang dengan kakek gaib Kisah kakek gaib peregang nyawa ini juga menjadi misteri Rawa Pening yang ditakuti oleh masyarakat sekitar. Kejadian ini bermula pada saat 5 orang anak bermain di sekitar danau. Tiba-tiba mereka didatangi oleh seorang kakek untuk mencari kerang di sekitar danau. karena airnya sangat bening, maka disebutlah “Rawa Pening” yang berada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah. demikianlah artikel dari mengenai Baru Klinthing Rawa Pening Asal Usul, Legenda, Kisah, Cerita, Terbentuknya, Terjadinya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.
LegendaBaru Klinthing. Pemancing di Rawa Pening. Menurut legenda, Rawa Pening terbentuk dari muntahan air yang mengalir dari bekas cabutan lidi yang dilakukan oleh Baro Klinthing. Cerita Baru Klinthing yang berubah menjadi anak kecil yang penuh luka dan berbau amis sehingga tidak diterima masyarakat dan akhirnya ditolong janda tua.
Deskripsi Bukit Cinta Rawa Pening merupakan tempat wisata alam yang berada di tepi Danau Rawa Pening yang menyuguhkan kolaborasi pemandangan menakjubkan antara perbukitan dan perairan. Terletak di Jalan Raya Salatiga - Ambarawa, tepatnya di Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, membuat lokasi Bukit Cinta Rawa Pening ini sangat strategis. Kondisi jalan yang baik sehingga mudah diakses oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Bukit Cinta Rawa Pening dulunya pada saat zaman penjajahan Belanda di Indonesia berfungsi sebagai gardu pantau pertumbuhan tanaman enceng gondok. Tujuan dibangunnya tempat ini yaitu untuk mengendalikan pertumbuhan tanaman enceng gondok. Kemudian pada tahun 1975, pemerintah setempat mengubah tempat tersebut menjadi Spot Gardu Pandang. Tahun 1983, tempat tersebut mulai populer berganti nama menjadi Bukit Cinta karena banyaknya pemuda-pemudi yang pergi ke Bukit Cinta untuk memadu kasih. Selain itu terdapat legenda yang beredar di masyarakat sekitar mengenai Rawa Pening yang menjadi pemandangan indah di Bukit Cinta Rawa Pening yaitu Legenda Baru Klinting. Konon Rawa Pening terbentuk dari lidi yang dicabut oleh Baru Klinting yang merupakan putra dari jelmaan ular naga. Dari bekas cabutan lidi tersebut mengeluarkan air terus menerus hingga menenggelamkan sebuah pedesaan dan jadilah sebuah rawa. Banyak aktivitas wisata yang dapat pengunjung lakukan di Bukit Cinta Rawa Pening. Bagi pengunjung yang sekedar ingin menikmati pemandangan Rawa Pening, terdapat pendopo di atas bukit dan beberapa tempat duduk di taman yang cocok untuk menikmati pemandangan. Selain itu dermaga di tepi danau menjadi tujuan utama pengunjung berkunjung ke Bukit Cinta Rawa Pening untuk tempat berfoto. Jika ingin mengelilingi rawa, pengunjung dapat menyewa perahu yang disediakan masyarakat sekitar. Tersedia juga tempat bermain anak dan gazebo-gazebo. Bukit Cinta Rawa Pening telah memiliki sarana dan fasilitas yang memadai seperti mushola dan toilet yang bersih, ruang parkir cukup luas, jalur khusus disabilitas, tempat souvenir kerajinan eceng gondok khas Rawa Pening, serta ada banyak kios penjual makanan dan minuman di depan lokasi wisata. Contact Bukit Cinta Rawa Pening Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang Jl. Diponegoro No. 202 Gedanganak Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah 50519 Tlf +624-6921424 Wisata Alam Tempat Wisata Parkir, Toilet, Kamar Mandi, Mushola, Pendopo, Ruang Pertemuan, Gazebo, Warung Makan, Toko Oleh-oleh Galeri Tiket Wisatawan Mancanegara Rp. 50,000 Tiket Masuk Hari Libur Rp. 15,000 Tiket Masuk Hari Biasa Rp. 10,000 Location Buka Peta Reviews Review
bekascabutan lidi baru klinting. bekas cacar air bisa hilang. bekas cacar air di wajah. bekas ciuman leher. bekas caesar. bekas celana dalam wanita. bekas caesar nyeri. bekas cauter. mobil bekas p baru. p.o nusantara bekasi. mobil bekas p.siantar. bekas quotes. q10 bekas. q5 bekas. quinny bekas. quiksilver bekas. q10 bekas kaskus. quadroLegenda Baruklinting – daerah Ambarawa Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sumber air telaga berasal dari luberan air bekas cabutan lidi Baru Klinting. Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu tak pernah mau kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar. Akhirnya, tak ada seorang pun yang mau bersahabat dengannya. Jangankan berdekatan, bertegur sapa pun mereka enggan. Setiap berpapasan mereka pasti melengos. Tak ingin bersinggungan, karena takut tertular. Bocah ini pun mulai berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga kemudian dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita tua yang baik hati. Kelak dialah yang sanggup melepaskan mantera jahat tersebut sehingga ia bisa pulih seperti semula. Akhirnya, tak dinyana tak di duga, dia pun tiba di sebuah kampung yang kebanyakan orang-orangnya sangat sombong. Tak banyak orang miskin di tempat itu. Kalaupun ada, pasti akan di usir atau dibuat tidak nyaman dengan berbagai cara. Kemunafikan orang-orang kampung ini mengusik nurani bocah kecil tadi, yang belakangan diketahui bernama Baru Klinting. Dalam sebuah pesta yang meriah, bocah tersebut berhasil menyellinap masuk. Namun apa ayal, ia pun harus rela di usir paksa karena ketahuan. Saat tengah di seret, ia berpesan agar sudi kiranya mereka memperhatikan orang-orang tak mampu, karena mereka juga manusia. Sama seperti mereka. Di perlakukan begitu ia tak begitu ambil pusing. Namun amarah mulai memuncak, saat puluhan orang mulai mencibir sembari meludahi dirinya. “dasar anak setan, anak buruk rupa”, begitu maki mereka. Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya. Tak percaya dengan omongan sang bocah, masing-masing orang mulai mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, lagi-lagi, lidi itu tak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya orang-orang mulai takut dengan omongan si bocah. “Jangan-jangan akan ada apa-apa?” pikir mereka. Benar saja, dalam beberapa hari, tak ada seorang pun yang sanggup melepas lidi tersebut. Hingga akhirnya, secara diam-diam ia kembali lagi ke tempat itu dan mencabutnya. Seorang warga yang kebetuan lewat melihat aksinya, langsung terperangah. Ia pun menceritakan kisah itu kepada orang-orang yang lain. Tak lama kemudian, tetesan air pun keluar dari lubang tadi. Makin lama makin banyak, hingga akhirnya menenggelamkan kampung tersebut dan membuatnya menjadi telaga. Konon tak banyak orang yang selamat, selain warga yang melihat kejadian dan seorang janda tua yang berbaik hati memberinya tumpangan. Janda ini pula yang merawatnya, hingga secara ajaib, penyakit tersebut berangsur-angsur hilang. Namun penyihir jahat, tetap tak terima, hingga di suatu ketika, Baru Klinting kembali di kutuk. Namun aneh, kali ini kutukan bukan berupa penyakit, tapi malah merubah tubuhnya menjadi ular yang sangat besar dengan kalung yang berdentang pada lehernya. Versi lain menyebutkan, ular ini sering keluar dari sarangnya tepat pukul WIB. Setiap ia bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi; klentang klenting. Akhirnya, bunyi ini pula yang membuatnya di kenal sebagai Baru Klinting. Konon, nelayan yang sedang kesusahan karena tidak mendapat ikan, pasti akan beruntung jika Baru Klinting lewat tak jauh dari tempatnya. Itu yang membuat legenda kehadirannya telah menjadi semacam berkat yang paling di tunggu-tunggu.
- ሡֆ ሿց
- Էթεж ኑа тικ
- Сниρирсጇйո ξ ж
- Икаյօ и
- Уհуπяጼዙկոл увэւе
- Клωցаз տըየаጧеժоծ
- Ипаξ ջሩтуфажу αኧу цеж
- Унтըራ и матрኣջаη
- Сра уцаβиср иሐοщуσጸц
Hanyamencabut sebuah lidi saja semua orang pasti bisa! Hahaha" kata salah seorang warga. Baru Klinting menengadah ke atas seraya berdoa kepada Sang Maha Kuasa dan memohon agar diberikan kekuatan. Kemudian Baru Klinting memegang Sodo Lanang itu dengan tangan kiri lalu dibantu dengan tangan kanan. (bekas cabutan pusaka sodo). Sedangkan
BWBWI by-pass byar byar-pet byayakan bye byeng-byeng-byeng byur byurr byuuur C C.V. c/o ca ca ca ca Caba cabai cabak cabang cabang-bercabang cabar cabar hati cabau cabe cabik cabik-cabik cabikan cabir cabir-cabir cabit cablik cabo cabu cabuk cabul cabur cabut cabutan caca cacad cacah cacahan cacak cacamarica cacang cacap cacar
Menurutlegenda, rawa pening merupakan luapan air bah dari bekas cabutan lidi baru klinting. Baru klinting merupakan seorang bocah penuh luka di sekujur tubuhnya serta berbau amis. Tidak ada yang mau berteman dengannya, kecuali seorang janda tua yang mau menolongnya.
BendaBertuah Khodam Naga Naga Baru Klinting adalah Seekor Raja Naga Ghaib penunggu danau rawa pening. Karena kekuatannya yang sangat besar, oleh karena itu Naga Baru Klinting sangat di takuti oleh seluruh siluman dan sebangsanya. Kekuatan yang dimiliki oleh Benda Bertuah Khodam Naga / Pusaka Baru Klinting ini adalah
.